DASAR ILMU PENDIDIKAN
Landasan pendidikan merupakan
seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolak dalam praktik pendidikan. Melalui
studi pendidikan diperoleh pemahaman tentang landasan pendidikan yang akan
dijadikan sebagai titik tolak dalam praktik pendidikan yang akan dilaksanakan.
Hal tersebut dimulai dengan memahami hakekat manusia, di mana manusia sebagai
pelaku utama yang memiliki peran sebagai subjek di dalamnya. Hakekat manusia
dapat dilihat dalam beberapa aspek yaitu berdasarkan asal-usulnya manusia
sebagai makhluk Tuhan, struktur metafisiknya manusia sebagai kesatuan jasmani
dan rohani, serta karakteristik dan makna eksistensinya di dunia yang bisa
dilihat sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk berbudaya, makhluk
susila, dan makhluk beragama. Manusia memiliki tanggung jawab untuk membina
masyarakat, memelihara alam lingkungan, membina kerukunan hidup bersama, dan
memelihara martabat kemanusiaannya (human dignity), sehingga sepatutnya manusia
perlu memiliki kompetensi pedagogik terlebih lagi bagi seorang pendidik.
Melalui kompetensi ini pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan dan trampil
dalam melihat karakteristik peserta didik dari berbagai aspek kehidupan, baik
itu moral, emosional maupun intelektualnya.
Landasan pendidikan sebagai
pijakan dalam praktik pendidikan diantaranya yaitu landasan filosofis dan
epistemologi, landasan yuridis, landasan empiris, dan landasan religius.
Landasan filosofis pendidikan adalah pandangan-pandangan yang bersumber dari
filsafat pendidikan mengenai hakikat manusia, hakikat ilmu, nilai serta
perilaku yang dinilai baik dan dijalankan setiap lembaga pendidikan. Pendidikan
nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Landasan epistimologi pendidikan adalah
pandangan-pandangan yang bersumber dari cabang filsafat epistimologi yang
disebut juga teori mengetahui dan pengetahuan.
Landasan empiris terdiri dari
landasan psikologis, historis, dan sosiologis. Landasan psikologi dalam
pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari studi ilmiah tentang
kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi
manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan
menyikapi manusia yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Landasan
historis pendidikan nasional di Indonesa tidak terlepas dari sejarah bangsa
indonesia yang memiliki enam fase. Landasan sosiologis bersumber pada norma
kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa sehingga tercipta
nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang
mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota
masyarakat. Sedangkan landasan religius adalah asumsi-asumsi yang bersumber
dari religi atau agama yang menjadi titik tolak dalam rangka praktik pendidikan
dan atau studi pendidikan.
Materi pembelajaran memang harus dikuasai oleh seorang guru.
Namun, bagaimana membantu peserta didik untuk belajar secara efektif? Salah
satunya adalah dengan memahami tentang karakteristik peserta didik. Materi ini
penting untuk dipahami, karena pendidik dalam menjalani profesinya berhadapan
dengan manusia yang disebut dengan peserta didik yang kaya akan potensi.
Peserta didik yang dihadapi adalah individu-individu yang unik,
berbeda satu dengan lainnya. Mereka hadir di ruang kelas berasal dari berbagai
latar belakang dan karakteristik yang berbeda-beda seperti: etnik, kultural,
status sosial, minat, perkembangan kognitif, kemampuan awal, gaya belajar,
motivasi, perkembangan emosi, perkembangan social, perkembangan moral dan
spiritual, serta perkembangan motoriknya. Oleh karena itu kesiapan pendidik
memahami karakteristik peserta didik dalam pembelajaran merupakan modal yang
sangat penting dan strategis bagi seorang pendidik professional.
Mengapa seorang pendidik dituntut untuk menguasai pengetahuan
tentang peserta didik? Dalam merancang dan melaksanakan program pembelajaran
guru harus memperhitungkan taraf perkembangan peserta didik yang dihadapinya.
Pengetahuan terkait karakteristik peserta didik juga memungkinkan pendidik
untuk memahami apa yang dibutuhkan, diminati, dan hendak dicapai oleh peserta
didik sehingga ia dapat memberikan pelayanan yang bersifat individual bagi
mereka yang mengalami kesulitan mampu memberi pengayaan terhadap mereka
yang belajar cepat. Dengan demikian pendidik dapat menjalankan tugas
keprofesian sebagai pendidik yang memesona dengan penuh panggilan jiwa dengan
dilandasi kesepenuhatian dan kemurahatian.
A. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Teori belajar behavioristik menyatakan bahwa belajar adalah
perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap belajar jika ia telah mampu
menunjukkan perubahan tingkah laku. Pentingnya masukan atau input yang berupa
stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Stimulus adalah sesuatu
apa saja yang diberikan oleh guru kepada peserta didik, dan respon berupa
rekasi atau tanggapan yang dihasilkan oleh peserta didik terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru. Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam
belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapar memperkuat timbulnya respons.
Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan
semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative
reinforcement) maka respons juga akan menguat.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan
sebagai aktifitas “mimetic” yang menuntut peserta didik untuk
mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi
pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan
evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar.
Jawaban yang benar menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan tugas
belajarnya.
B. TEORI BELAJAR KOGNITIF
Pengertian belajar menurut teori belajar kognitif adalah
perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang
dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang
memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur
kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi
pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang
telah dimiliki seseorang. Menurut teori kognitif, ilmu pengetahuan dibangun
dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan
lingkungan. Proses ini tidak terpatah-pata, terpisah-pisah, tapi melalui proses
yang mengalir, bersambung-sambung, dan menyeluruh.
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, keterlibatan peserta
didik secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan
retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan setruktur kognitif
yang telah dimiliki peserta didik. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan
pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. Perbedaan individual
pada diri peserta didik perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat
mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik.
C. TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK
Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar
merupakan usaha pemberian makna oleh peserta didik kepada pengalamannya melalui
asimilasi dan akomodasi yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya,
memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut. Oleh karena itu pembelajaran
diusahakan agar dapat memberikan kondisi terjadinya proses pembentukan tersebut
secara optimal pada diri peserta didik. Peserta didik diberikan kesempatan
untuk mengembangkan ide-idenya secara luas.
Sementara peranan guru dalam belajar konstruktivistik adalah membantu agar
proses pengkonstruksian pengetahuan oleh peserta didik berjalan lancar. Guru
tidak mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu
peserta didik untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan dituntut untuk lebih
memahami jalan pikiran atau cara pandang peserta didik dalam belajar.
D. TEORI BELAJAR HUMANISTIK
Menurut teori humanistik tujuan belajar adalah untuk
memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah
memahmai lingkungan dan dirinya sendiri. Teori humanistik bersifat eleksitk, maksudnya
toeri ini dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai.
Aplikasi teori humanistik dalam kegiatan pembelajaran cenderung
mendorong siswa untuk berpikir induktif. Teori ini juga amat mementingkan
faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Semua
komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya
manusia yang ideal, manusia yang dicita- citakan, yaitu manusia yang mampu
mencapai aktualisasi diri. Untuk itu, sangat perlu diperhatikan bagaimana
perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya, pemahaman terhadap
dirinya, serta realisasi diri.
Komentar
Posting Komentar